Subscribe Us

JOKO LONGKEYANG

Trans Jateng Diusulkan Jadi BLUD, Gubernur Luthfi Tegaskan Nafas Pelayanan Publik Harus Diutamakan


jokolongkeyang.blogspot.com, Semarang – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah (Pemprov Jateng) mulai mengambil langkah strategis untuk mengubah status pengelolaan Trans Jateng menjadi Pola Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum Daerah (PPK-BLUD). Rencana ini dibahas langsung oleh Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, saat menerima audiensi Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Jawa Tengah, Arif Djatmiko, beserta jajaran, di kantor Gubernur, Kota Semarang, Jumat (21/11/2025).

Meskipun secara prinsip menyetujui rencana tersebut, Gubernur Luthfi dengan tegas meminta agar bus yang dikelola Pemprov tersebut tidak diarahkan untuk kepentingan bisnis.“Nafasnya transportasi umum (pemerintah) itu tidak boleh bisnis, karena itu kan pelayanan. Coba nanti pertimbangkan lagi. Prinsipnya saya setuju (Trans Jateng dijadikan BLUD), tapi ada positif-negatifnya,” kata Ahmad Luthfi. Ia pun meminta Dishub Jawa Tengah benar-benar mengkaji secara mendalam keuntungan dan risiko pengubahan status PPK-BLUD ini.


Menindaklanjuti arahan Gubernur untuk terus menjaga dan meningkatkan pelayanan, Kepala Dishub Jawa Tengah, Arif Djatmiko, melaporkan bahwa tren Trans Jateng sejak diluncurkan pada 2017 hingga 2025 menunjukkan perkembangan yang sangat positif.“Tahun kemarin saja sudah ada 9,5 juta penumpang. Artinya masyarakat Jawa Tengah yang terlayani semakin banyak,” jelas Arif. Ia menambahkan, dari 10 target pengembangan, saat ini sudah 4 wilayah atau sekitar 40% kabupaten/kota di Jawa Tengah telah terlayani oleh 7 koridor yang beroperasi.

Terkait dengan rencana pengembangan ke depan, Kadishub menegaskan bahwa fokus utama hingga Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2027 adalah mengintegrasikan layanan angkutan subregional, angkutan kota, dan angkutan pedesaan, bukan semata-mata menambah armada Trans Jateng.“Jadi, bukan menambah armada Trans Jateng, melainkan menggandeng layanan eksisting milik kabupaten/kota dan pedesaan agar terintegrasi dalam satu sistem,” terang Arif.

Skema integrasi yang disiapkan antara lain memungkinkan penumpang angkutan kota berpindah ke Trans Jateng melalui halte yang sama, atau penumpang antarkabupaten melanjutkan perjalanan dengan angkutan pedesaan dari titik yang sudah terhubung.


Dishub Jateng menargetkan pada 2027 integrasi layanan transportasi dapat menjangkau seluruh jenjang, mulai dari subregional hingga desa. Dengan pendekatan ini, diproyeksikan jumlah masyarakat yang terlayani akan meningkat secara signifikan.

Saat ini, Trans Jateng sudah mengoperasikan 7 koridor, meliputi rute Semarang-Bawen, Purwokerto-Purbalingga, Semarang-Kendal, Solo-Sragen, Magelang-Purworejo, Semarang-Grobogan, hingga Sukorejo-Surakarta-Wonogiri.

Untuk jangka panjang, Dishub menargetkan ekspansi agresif: pada 2030, total koridor akan bertambah menjadi 12. Ini berarti cakupan layanan akan meningkat dari 40% menjadi 62,86% wilayah Jawa Tengah. Konektivitas kecamatan dan desa juga diproyeksikan meningkat, sejalan dengan visi pelayanan publik yang diemban.**( Joko Longkeyang ). 

Posting Komentar

0 Komentar